Rabu, 12 Maret 2014

Hidupku Seperti Sebuah Drama oleh Desty Dwi Kayanti (DDK)


Hidupku Seperti Sebuah Drama
Aku tidak pernah berkeinginan dilahirkan dari keluarga kaya, miskin, keluarga yang penuh kasih sayang, keluarga yang pemarah, keluarga yang perhatian serta keluarga yang alim. Semuanya itu adalah rahasia sang pencipta, aku tidak bisa bekehendak saat aku belum dilahirkan ke dunia ini. Inilah awal permulan pikiranku  mulai saling beradu argument. Aku tidak minta dilahirkan dikeluargan yang sekarang, tapi takdir sudah tertulis dan sudah terjadi dan dalam waktu perambatan ke takdir-takdir berikutnya yang belum terjadi. Aku tidak menyangka bahwa Sang Pecipta akan menghidupkanku di rahim seorang perempuan yang sangat ku sayangi dari dulu hingga saat ini. Seorang perempuan yang membuatku tumbuh menjadi anak yang sehat, berkepribadian baik, dan anak yang bisa dibanggakan oleh kedua orang tua. Perempuan yang selama ini selalu memberiku motivasi hidup agar aku bisa bertahan menjalani kehidupan yang penuh dengan sandiwara ini. Perempuan yang selalu ia rindu senyuman hingga saat ini, yang selalu dirindu kasih sayangnya, yang selalu membiasakanku disiplin, bangun subuh dan selalu memmbiasakan diriku menjaga kebersihan. Itulah ibuku yang selalu ku sayangi. Keluargalah yang menguatkanku untuk hidup. Aku terlahir ke keluarga yang latarbelakangnya adalah keras, suka marah dan penuh dengan masalah yang awalnya aku tak tahu kenapa semua itu bisa terjadi dalam keluarga ini, itulah keluarga bapakku, tidak begitu dengan keluarga dari mamaku, mereka hidup  dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Tapi aku tidak bisa mengeluh  atau  menyalahkan takdirku karena ini semua sudah tertuliskan di alam Sang Pencipta, takdir  sudah berkata kehidupanku sudah dimulai di dunia ini. Saat aku kecil dan belum mengerti ada apa dengan keluargaku, yang ku tahu hanya sering melihat bapakku marah, saat aku menangis, aku sering dipukuli oleh bapak, dan itu tidak terjadi sekali, tapi berkali-kali. Setiap aku menangis aku selalu di marah dan di pukul oleh bapak. Entah takdir apa yang terjadi pada hidupku saat itu. Aku memiliki kakak laki-laki dan adik laki-laki. Saat adikku masih bayi dan aku sudah menginjak pendidikan awal di TK. Dulu aku adalah anak yang berkulit hitam dan sangat aktif. Aku tak tahu kenapa dulu aku sangat dibenci oleh kakak laki-lakiku. Dari masih kecil hingga aku kelas 3 SMP kebencian kakaku tak pernah pudar kepadaku.Aku tidak tahu dan Aku juga tidak mengerti kenapa kakakku sangat membenciku. Setiap hari aku kelahi dengan kakakku, tapi tetap saja aku yang selalu di pukul dan di marah. Aku tidak bisa menahan air mata, Aku selalu menangis, menangis, dan menangis. Hanya tangisan yang bisa membuatku tenang. Aku heran dulu setiap aku berkelahi dengan kakakku, aku selalu di marah oleh mama, selalu aku yang disalahkan,  padahal bukan aku yang salah. Dulu aku  sempat berpikir jika mama sering membelah kakak cowokku dan mama lebih sayang kepada kakak daripada kepadaku. Dan itu aku rasakan sampai aku kelas 3 SMP. Setiap ada permasalahan dalam rumah aku selalu disalahkan. Aku dulu tak pernah benar di mata mama. Setiap  aku berbuat baik tak pernah di hargai. Saat itu aku mulai  membenci mama dan kakakku. Aku selalu menangis, menangis dan menangis, tapi jika aku menangis aku selalu terkena pukulan bapak. Belum selesai dengan masalah kecil ini, masalah yang lain ada lagi menghampri kehidupan ku, Ibu dari bapakku memiliki watak yang keras dan suka berbicara kasar dan menyakiti hati siapapun yang bermasalah dengannya di depan umum, begitulah sifat itu turunkan kepada bapakku. Dari dulu nenekku tidak suka dengan mama, dia selalu menyakiti hati mama, mamaku pernah di permalukan di depan para tetangga dan aku menyaksikan itu semua. Tidak hanya itu, dulu semua saudara bapakku juga selalu membedakan aku dengan sepupuku yaitu Tya anak dari adik bapakku. Setiap kami  dibelikan sesuatu aku selalu di nomor duakan, nenek, tante-tanteku selalu lebih memperhatikan Tya. Begitulah yang ku dengar dari mulut mamaku dulu setelah aku mulai tahu arti kehidupan ini. Sampai saat ini aku masih mengingat kejadian-kejadian diskriminasi dari nenek dan tanteku. Walau , jika di lihat secara langsung itu memang sangat menyakitkan tapi jika otakku sudah mulai menganalisa semuanya maka keburukan nenek dan tanteku menjadi tak berarti karena kebaikan yang ada dalam diriku ini. Hal ini selalu terjadi hingga aku naik ke tingkat SD, tak ada perubahan yang terjadi dalam keluargaku, kakakku masih sangat membeciku, aku juga masih sering di pukuli dengan ikat pinggang oleh bapakku, dan akupun masih dibeda-bedakan dengan sepupuku. Aku semakin tidak mengerti kenapa ini terjadi dalam hidupku ,  aku pernah berpikir lebih baik aku mati saja daripada aku harus hidup di keluarga seperti ini, inilah naluri anak-anakku dulu. Tapi Tuhan berencana lain, Tuhan telah mengatur segalanya dalam hidupku.
            Aku memang terlahir dari keluarga yang kaya, bapakku memiliki koperasi sendiri dan saat aku masih kecil koperasi bapakku semakin baik dan penuh dengan rezeki sehingga semua kebutuhan keluarga tercukupi. Dulu keluargaku setiap tahun ganti mobil. Tapi takdir sudah berbicara lain, ternyata kekayaan keluargaku tiba disaat mana sang pemberi titipan kekayaan ingin mengambil hakNya lagi. Ternyata Tuhan berkehendak kantor cabang bapakku yang kedua bangkrut karena pegawainya banyak yang korupsi, ini memang derita pahit yang harus ditanggung keluargaku, karena dulu saat  harga bbm dan barang-barang kebutuhan pokok naik, bapakku terpaksa menjual mobil, dan keluargaku semakin banyak mengalami kekurangan. Dulu aku tidak bisa meminta untuk  dibelikan apapun, semuanya jadi terbatas, mama selalu menasihati jika kami bukan lagi seperti yang dulu. Aku tak tahu
hikmah dan arti kejadian ini dulu, pikiran ku belum bisa mengusai berbagai permasalahan yang terjadi dalam kehidupanku dan kehidupan kelurgaku, itu karena aku masih kecil dan tak tahu apa-apa. Kehidupan baru dimulai, dimana kehidupan ini bisa dibilang lebih buruk dari kehidupanku yang dulu, sifat-sifat keluarga dari bapakku tak kunjung berubah, malah yang tambah parah mamaku jadi sering marah-marah. Dan aku  bingung, kenapa saat itu, semua kemarahan dirumah itu semua di lampiaskan kepadaku. Aku semakin tidak mengerti, yang aku lakukan hanya menjalani apa adanya hidup ini. Kehidupan SD kelas 1 higga kelas 3 tak ada makna yang begitu dalam yang ku rasakan,t api saat aku mulai menginjak kelas 4 hingga kelas 6 SD ternyata takdir sudah berkata lagi. Aku menjadi murid berprestasi di sekolahku. Aku mendapat rangking 2 di kelas samapai kelas 6 SD. Yang aku banggakan disini adalah padahal dulu aku bodoh dan sering mendapat nilai jelek, tapi semenjak kelas 3 aku mulai sering ikut les diguruku, ternyata keajaiban terjadi, aku selalu menjadi juara kelas mengalahkan teman-temanku yang dulunya pintar. Aku tak menyangka bisa dapat rangking, gara-gara hal ini aku semakin senang belajar dan ini adalah kebanggakan tersendiri saat itu bagiku, aku jadi berpikir jika aku bisa membuat bangga kedua orang tuaku. Dan itu tak seperti yang kubayangkan, ternyata walaupun aku mendapat juara kelas aku tetap saja mendapat perlakuan seperti biasanya. Orang tuaku hanya melihat rapot dan piagamku begitu saja, tidak ada kesan yang mereka torehkan kepadaku yang saat itu aku mendapat juara. Aku hanya bisa diam dan tak tahu mau berbuat apa, kenyataan sudah terjadi.
            Tak seperti kehidupan saat SD, kehidupan SAAT SMP lebih memberikan arti dan makna dari kehidupan, dan di saat itu pula otakku sudah dapat menganlisa semua masalah-masalah dalam hidupku. Dimulai dari aku kelas 7 SMP, dimana permulaan dimulai saat aku mulai ikut masa orientasi siswa baru. Seperti yang sudah mendarah daging dari mamaku, aku sangat giat dan aktif dalam setiap kegiatan MOS, dan saat itu aku terpilih menjadi pembawa bendera saat upacara. Tak kusangka ternyata ini adalah permulaan yang baik, aku jadi semakin aktif dan tidak hanya aktif di organisasi aku juga aktif di dalam kelas, aku tidak menyangka ternyata di SMP ini aku mendapat juara 1 di kelas, tetapi aku tidak bisa menjadi juara umum dari semua kelas, tidak apa-apa, tapi karena hal ini yang bisa memompa jangtungku untuk bekerja lebih giat dan terus giat lagi belajar. Dari kelas 7 SMP aku mengikuti semua organisasi yang ada di sekolah untuk mengisi waktu luangku, aku menjadi pengurus osis di sekolahku, aku banyak dikenal oleh teman-teman sekolah bahkan kakak kelas karena keaktifanku disemua organisasi. Ternyata semakin hari aku  semakin menunjukan prilaku yang baik dan peningkatan dalam belajar. Tak kusangka ternyata semester kedua,  aku bisa mendapatkan juara umum kedua, betapa bangganya diriku saat itu begitu juga dengan kedua orang tuaku. Kenaikan kelaspun sudah tiba, aku bersekolah lagi. Aku tak menyangka ternyata seorang anak yang baru berusia 13 tahun sudah bisa menjadwal kegiatannya sehari-hari, itulah aku dulu hingga sekarang, waktu sangatlah berharga bagiku. Kesibukan disekolah membuatku hanya malam hari berada dirumah, semenjak naik kelas 8 kesibukan menambah dikarenakan aku menjadi ketua beberapa organisasi di sekolahku.Aku terpilih menjadi ketua pramuka, ketua PMR, wakil ketua mading, Sekretaris English Club, Sekretaris Umum OSIS, semua tanggung jawab ini adalah takdir yang Tuhan telah gariskan untukku, sehingga aku tak bisa membuang waktu dengan sia-sia. Setiap menit bagiku sangatlah berarti.
            Seperti halnya kehidupan nyata yang ku lihat ternyata semakin kita mendapatkan kesuksesan hidup maka semakin banyak pula tantangan yang akan di hadapi.Begitu juga yang aku alami saat itu. Aku disekolah adalah anak yang aktif dan suka banyak mergaul dengan semua orang tanpa memandang bulu, tapi walaupun kebaikan selalu ku berikan kepada teman-teman. Tapi saat kebaikan itu mendapat ujian dari Tuhan, hanya perjalan yang akan menjwab apakah kita sanggup melewatinya atau tidak. Dulu saat naik dikelas 8 aku memilki teman-teman yang baik, mereka ada yang cowok dan  ada yang cewek, mereka semua sudah ku anggap saudara ku sendiri. tapi di balik itu semua ada juga sedikit teman yang tidak senang melihat keberhasilanku, mereka sering menjelek-jelekanku dan membicarakanku di  belakang tapi aku diam saja. Mereka seperti peluru yang siap menancap dalam jantungku. Mereka selalu menjadi pengacau disekolah. Semua guru sudah mengenalku, bahkan penjaga sekolahpun sangat dekat denganku, karena itulah mereka menjdai iri denganku, tapi saat itu aku sudah mulai tumbuh dewasa, aku sudah bepikir jika aku meladeni mereka maka aku sama saja dengan mereka. Sejak saat itu pula aku tidak lagi menghiraukan mereka, walau ada saja yang mereka hinakan dan menyindirku tapi aku tidak peduli lagiyang aku pikirkan hanya focus pada yanggung jawab yang sedang aku pegang saat itu. Di SMP aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan seorang guru BP(bimbingan Konseling) dan juga seorang Pembina pramuka, namanya pak Syukri. Beliau mengajarkan begitu banyak makna dari kehidupan. Satu pesan beliau yang sampai saat ini aku masih simpan dan selalu akan mengingatnya yaitu”KAMU TAHU NAK,SEMAKIN TINGGI POHON,MAKA SEMAKIN BESAR ANGIN YANG AKAN MENERPANYA,COBA KAMU PERHATIKAN RUMPUT YANG ADA DI BAWA,HANYA SEDIKIT ANGIN YANG MENERPANYA.UNTUK ITU JIKA KAMU SEMAKIN SUKSES MAKA AKAN SEMAKIN BANYAK COBAAN YANG KAMU DAPAT,SEKARANG TINGGAL BAGAIMANA CARANYA APAKAH KAMU MAU JADI POHON YANG TINGGI YANG AKAN DI TERPA ANGIN LEBIH BESAR ATAU KAMU MAU JADI RUMPUT YANG DITERPA SEDIKIT ANGIN TAPI KAMU SELALU DI INJAK-INJAK? KUATKAN DIRIMU,JADILAH POHN YANG TUMBUH SEMAKIN TINGGI DENGAN AKAR YANG KUAT SEHINGGA SEBESAR APAPUN ANGIN YANG AKAN MENERPAMU KAMU TAK KOYAH DAN ROBOH DENGANNYA’’. Itulah pesan yang sampai saat ini tertanam kuat dalam diriku. Pak syukri dulu adalah guru yang sangat disegani oleh semua orang, tidak hanya aku, teman-temanku yang lain bahkan kakak kelasku curhat tentang masalah pribadi dengannya. Dan pak Syukri begitu pandai dalam memberikan solusi dan motivasi bagi kami semua. Melihat keaktifan dan kesungguhanku, pak Syukri berkeinginan menjadikan aku KETUA osis, tapi ternyata takdir berkata lain, saat itu pak syukri lulus menjdi PNS, jadi pak syukri sibuk mengurus surat pindah sehingga saat itu ia diganti oleh pak Iman, ternyata aku baru tahu saat itu jika pak Iman adalah guru yang tidak senang dan irih kepada pak Syukri yang banyak disukai para murid. Saat pemilihan ketua osis aku di antara keempat temanku aku yang paling baik menyampaikan visi dan misi, tapi takdir sudah berkata, saat perhitungan suara aku hanya beda 3 point dari temanku NISA, aku sempat kecewa dan menangis tidak terpilih menjadi ketua. Setelah pemilihan aku sholat dan berdoa kepada Tuhan kenapa ini bisa terjadi, yang ku takutkan bukan tidak bisa jadi osis, karena aku tetap menjadi sekretaris umum, tapi yang ku takutkan adalah ejekan dari teman yang selalu iri dan tidak suka denganku. Semua ini memang sudah terjadi aku memang tidak bisa berbuat apa-apa.
            Keesokan harinya disekolah tak  jam 6 lewat 15 aku sudah berada disekolah, begitulah keseharianku pergi sekolah dating tepat waktu lalu membersihkan kelas, dan taman depan kelas karena tanggung jawabku sebagai ketua kelas,tapi hari ini perasaanku tidak seperti hari-hari lainnya. Hari ini aku keliatan sangat tidak bersemangat karena hasil pemilihan kemarin. Aku sudah bisa berpikir apapun karena cita-cita kecil menjadi seorang ketua OSIS sudah pupus sudah, aku melihat keceriaan di mata teman-teman yang suka iri denganku,begitu juga dengan pak iman, karena melihat ini semua hatiku menjadi sakit. Ternyata dugaan ku benar mereka menjadi memilki kekuatan untuk membicrakan dan menyinggung perasaanku. Walau sempat tak terima, tapi Tuhan masih menancapkan rasa kesabaran dalam hidupku.Aku sabar dengan semua yang terjadi dan mulai saat itu aku tidak lagi memikirkan jabatan ketua. Tapi ALLAH maha adil, Allah memberikan jalan lain dari ujian kesabaran yang aku alami, ternyata aku menjadi juara umum pertama disekolahku saat pembagian rapot. Yang tidak kalah membahagiakan lagi ternyata aku mendapat juara 1 lomba oliempiade fisika, semaphore, dan kebersihan kelas, tidak hanya itu aku juga mendapat juara 2 lomba baca cerita menggunakan bahasa inggris, juara 2 lomba mengarang sejrah rasullaulah. Tak ku sangka Allah memberikan nikmat yang tiada tara dari kesabaranku selama ini, tak kalah membahagiakn juga ternyata pengumuman lomba juara itu diumumkan di depan seluruh siswa disekolahku, betapa bangganya saat itu aku maju dengan mendapatkan banyak hadiah dan piagam. Tidak hanya guru yang bangga teman-temanku pun bangga denganku. Terbesit dalam hati saat maju di depan di dalam hati aku berdoa” makasih ya Allah atas apa yang kamu berikan,tambahkanlah kenikmatanmu  setiap detiknya ya Allah” dan hatiku ternyata tidak sedang serasi dengan pikiranku, pikiranku malah memikirkan betapa bahagianya kedua orang tuaku melihat apa yang akan ku bawa pulang kerumah. Ternyata terjwab sudah apa yang aku pikirkan itu,tak ku sangka saat aku membawa pulang hadiah-hadiah yang begitu banyak dan piagam-piagam yang begitu banyak pula dan semua itu ku persembahkan untuk kedua orang tuaku, mereka berdua terlihat sangat senang dan bapak serta mama bilang bangga kepadaku dan pesan mereka kepadaku agar aku jangan jadi anak yang gampang puas, tingkatkan lagi. Itulah kata-kata orang tuaku betapa bangga dan nikmatnya mendengar kata-kata yang keluar dari bibir manis kedua orang tuaku. Aku sangat senang saat itu, betapa tidak selain mendapat juara umum sekolah, aku jiuga mendapat juara umum untuk kegiatan non akademik, tidak hanya itu aku juga sangat senang ternyata orang tuaku sekarang sudah berubah dan aku berdoa saat itu semoga ini adalah awal yang baik. Kebahagian tidak hanya dating dari itu saja, tapi ada lagi kebahagiaan lain yang aku dapatkan yaitu aku diberi hadia oleh bapakku untuk pergi berlibur ke kota Mataram, Itulah mataram kota besar di provinsiku. Betapa senangnya saat itu kebahagiaan datang dengan cepatnya, ya Allah,,terima kasih,,begitulah hatiku selalu berucap.
            Doa yang selama ini aku panjatkan setiap sholat tahajud semakin hari semakin terwujud, mendapat prestasi disekolah ku raih, orang tuaku saat itu sudah berubah jarang marah, jarang mukul, jarang terjadi permasalahan seperti biasanya, dan walau hanya sedikit kakakku jadi sering menegur dan perhatian kepadaku. Alhamdulilah. Semua itu ternyata buah dari kesabaranku selama ini. Dan ini adalah cerita hidup yang penuh makna. Tidak berhenti sampai disini aku masih harus menjalani perjalan hidup yang penuh dengan tantangan kedepannya teringat pesan pak syukri dulu. Begitu seterusnya aku pun masih memegang juara umum disekolahku. Ternyata takdir baik sedang tidak berpihak lagi kepadaku, tiba saatnya aku mulai ujian disekolah tapi sebelumnya aku di uji terlebih dahulu dengan ujian yang sangat berat yaitu permasalhan kelurgaku. Orang tua ku berkelahi, yang menyebabkan kakaku tidak pernah lagi betah dirumah, dan aku melihat secara langsung perkelahian 2 orang yang sangat aku sayangi, disana aku melihat cucuan air mata dari mamaku yang tak sanggup  kulihat dan tak bisa ku tahan akupun ikut menangis padahal hari ujian ku saat itu tinggal1 hari. Betapa tidak pikiranku terganggu, belajar dan semangat dalam diriku tak ku tau lari kemana. Sungguh penyiksaan yang luar biasa dalam hidupku sempat tebikir aku bosan menjalani hidup ini dan aku selalu beradu argument dengan hati kecilku, kenapa temanku yang lain keluarganya bahagia, sedangkan keluargaku selalu bertengkar. Masalah yang sebenarnya sepele dirumah akan menjadi masalah yang besar. Mungkin disaat ini Allah lebih menguji kesabaranku, mungkin aku akan naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Tapi saat itu tak ada lagi yang bisa memedam rasa hati ingin menangis dan melepas semua penat hidupku. Aku merasa kalah dengan nafsu yang menyelimuti seluruh hatiku saat itu, nafsu yang menyuruhku ingin mati saja dan nafsu yang membuatku bertindak seperti menyalahkan takdir. Peristiwa yang tak pernah kubayangkan saat akan menghadapi ujian nasional aku harus di uji dulu dengan permasalahan hidup. Kenapa aku secepat ini merasakan pengalaman hidup seperti ini? Hatiku selalu bertanya seperti itu, aku selalu menyalahkan hidup ini, tapi apa mau di kata semuanya sudah terjadi. Hal inilah yang semua mimpi kecilku terbuang dengan begitu mudah. Ujian nasional di mulai, semua bejalan seperti biasa tapi tetap saja gangguan permasalahan dirumah menggangguku. Ujian Nasional  berlalu, dengan itu aku terbebas dari ujian akademikku. Perasaan khawatir mulai menggangu dalam pikiranku saat aku mengetahui bahwa beberapa soal ada yang ku jawab salah, hal ini semakin membuatku takut, tapi keluar dari itu aku sudah tidak ingin lagi memikirkannya, aku dulu fokus  untuk tes masuk SMAN 5 Mataram, sekolah yang banyak orang yang membanggakannya dan sekolah yang berada di ibukota provinsiku, sungguh aku bercita-cita bisa masuk sekolah itu dari SD. Ternyata Allah telah mengatur semuanya, akupun ikut tes dan aku belajar dengan sungguh-sungguh, tes ujian masuk SMA sudah aku lalui, saatnya aku menunggu penguman kelulusan. Hari sabtu adalah hari dimana saksi-saksi kehidupanku terungkap, hari ini adalah acara perpisahan sekolah dan bertepatan dengan pengumuman nilai ujian nasional, tak ku sangka dan semua pun tak menyangka ternyata aku mendapat juara ke-10 besar tingkat kecamatan, padahal teman-temanku sudah mengira aku akan mendapatkan nilai tertinggi pertama, ternyata takdir sudah berkata lain, sungguh malu dan sedihnya hatiku saat itu, ingin rasanya aku berteriakdan marah, kenapa semua ini begitu memalukan, rasa takut pun tak bisa ku bendung, takut untuk pulang dan membawa hasil menjadi juara 10. Biasanya aku membawa pulang juara 1 tapi sekarang aku membuat kedua orang tuaku kecewa. Ternyata perasaan dan kenyataan yang terjadi setiba dirumah benar,  aku di marah oleh mama, sungguh rasanya ingin menangis, mama marah aku bisa mendapat nilai begitu, aku sempat berpikir ternyata orang tuaku tak bisa menerima aku apa adanya, aku malah dimarah tapi mereka tak pernah tahu jika hatiku juga kecewa dan sakit mengetahui hasil ini. Tak berakhir lagi-lagi aku mendapat berita yang tak kalah mengejutkan ternyata saat pemilihan ketua osis dulu, ada kakak kelas yang menambah skor temanku Nisa, ternyata dia adalah orang yang suka iri padaku. Memang penuh dengan kejutan saat itu, tapi aku pikir itu semua sudah terjadi, aku ikhlas,aku berpikir bahwa orang iri  tandanya tak mampu . Tak di sangka-sangka Allah maha adil disaat aku di beri ujian ternyata ada kebahagiaan yang dikirim oleh Allah untukku. Kebahagiaan yang tak pernah ku sangka benar-benar terjadi, ternyata aku lulus di SMAN 5 Mataram. Ternyata kekecewaan orang tua ku terbalas dengan kelulusanku d SMAN 5 Mataram, SMA yang sangat sulit di masukin oleh orang-orang yang biasa, orang-orang pintar dan kayalah  yang bisa masuk SMA itu, betapa bersyukurnya aku saat itu. Satu pelajaran yang ku ambil di permasalahan ini, jika kita mau bersabar maka akan datang kenikmatan dan kebahagian, hadapi hidup ini walau pahit karena hidup banyak memberikan kita arti dan makna yang membuat kita lebih kuat untuk menghadapi tantangan hidup berikutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar