Hidupku
Seperti Sebuah Drama
Aku
tidak pernah berkeinginan dilahirkan dari keluarga kaya, miskin, keluarga yang
penuh kasih sayang, keluarga yang pemarah, keluarga yang perhatian serta
keluarga yang alim. Semuanya itu adalah rahasia sang pencipta, aku tidak bisa
bekehendak saat aku belum dilahirkan ke dunia ini. Inilah awal permulan
pikiranku mulai saling beradu argument.
Aku tidak minta dilahirkan dikeluargan yang sekarang, tapi takdir sudah
tertulis dan sudah terjadi dan dalam waktu perambatan ke takdir-takdir berikutnya
yang belum terjadi. Aku tidak menyangka bahwa Sang Pecipta akan menghidupkanku
di rahim seorang perempuan yang sangat ku sayangi dari dulu hingga saat ini.
Seorang perempuan yang membuatku tumbuh menjadi anak yang sehat, berkepribadian
baik, dan anak yang bisa dibanggakan oleh kedua orang tua. Perempuan yang
selama ini selalu memberiku motivasi hidup agar aku bisa bertahan menjalani
kehidupan yang penuh dengan sandiwara ini. Perempuan yang selalu ia rindu
senyuman hingga saat ini, yang selalu dirindu kasih sayangnya, yang selalu
membiasakanku disiplin, bangun subuh dan selalu memmbiasakan diriku menjaga
kebersihan. Itulah ibuku yang selalu ku sayangi. Keluargalah yang menguatkanku
untuk hidup. Aku terlahir ke keluarga yang latarbelakangnya adalah keras, suka
marah dan penuh dengan masalah yang awalnya aku tak tahu kenapa semua itu bisa
terjadi dalam keluarga ini, itulah keluarga bapakku, tidak begitu dengan
keluarga dari mamaku, mereka hidup
dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Tapi aku tidak bisa mengeluh atau menyalahkan
takdirku karena ini semua sudah tertuliskan di alam Sang Pencipta, takdir sudah berkata kehidupanku sudah dimulai di
dunia ini. Saat aku kecil dan belum mengerti ada apa dengan keluargaku, yang ku
tahu hanya sering melihat bapakku marah, saat aku menangis, aku sering dipukuli
oleh bapak, dan itu tidak terjadi sekali, tapi berkali-kali. Setiap aku
menangis aku selalu di marah dan di pukul oleh bapak. Entah takdir apa yang
terjadi pada hidupku saat itu. Aku memiliki kakak laki-laki dan adik laki-laki.
Saat adikku masih bayi dan aku sudah menginjak pendidikan awal di TK. Dulu aku
adalah anak yang berkulit hitam dan sangat aktif. Aku tak tahu kenapa dulu aku
sangat dibenci oleh kakak laki-lakiku. Dari masih kecil hingga aku kelas 3 SMP
kebencian kakaku tak pernah pudar kepadaku.Aku tidak tahu dan Aku juga tidak
mengerti kenapa kakakku sangat membenciku. Setiap hari aku kelahi dengan
kakakku, tapi tetap saja aku yang selalu di pukul dan di marah. Aku tidak bisa
menahan air mata, Aku selalu menangis, menangis, dan menangis. Hanya tangisan
yang bisa membuatku tenang. Aku heran dulu setiap aku berkelahi dengan kakakku,
aku selalu di marah oleh mama, selalu aku yang disalahkan, padahal bukan aku yang salah. Dulu aku sempat berpikir jika mama sering membelah
kakak cowokku dan mama lebih sayang kepada kakak daripada kepadaku. Dan itu aku
rasakan sampai aku kelas 3 SMP. Setiap ada permasalahan dalam rumah aku selalu
disalahkan. Aku dulu tak pernah benar di mata mama. Setiap aku berbuat baik tak pernah di hargai. Saat
itu aku mulai membenci mama dan kakakku.
Aku selalu menangis, menangis dan menangis, tapi jika aku menangis aku selalu
terkena pukulan bapak. Belum selesai dengan masalah kecil ini, masalah yang
lain ada lagi menghampri kehidupan ku, Ibu dari bapakku memiliki watak yang
keras dan suka berbicara kasar dan menyakiti hati siapapun yang bermasalah
dengannya di depan umum, begitulah sifat itu turunkan kepada bapakku. Dari dulu
nenekku tidak suka dengan mama, dia selalu menyakiti hati mama, mamaku pernah
di permalukan di depan para tetangga dan aku menyaksikan itu semua. Tidak hanya
itu, dulu semua saudara bapakku juga selalu membedakan aku dengan sepupuku yaitu
Tya anak dari adik bapakku. Setiap kami dibelikan sesuatu aku selalu di nomor duakan, nenek,
tante-tanteku selalu lebih memperhatikan Tya. Begitulah yang ku dengar dari
mulut mamaku dulu setelah aku mulai tahu arti kehidupan ini. Sampai saat ini aku
masih mengingat kejadian-kejadian diskriminasi dari nenek dan tanteku. Walau , jika
di lihat secara langsung itu memang sangat menyakitkan tapi jika otakku sudah
mulai menganalisa semuanya maka keburukan nenek dan tanteku menjadi tak berarti
karena kebaikan yang ada dalam diriku ini. Hal ini selalu terjadi hingga aku
naik ke tingkat SD, tak ada perubahan yang terjadi dalam keluargaku, kakakku
masih sangat membeciku, aku juga masih sering di pukuli dengan ikat pinggang
oleh bapakku, dan akupun masih dibeda-bedakan dengan sepupuku. Aku semakin
tidak mengerti kenapa ini terjadi dalam hidupku , aku pernah berpikir lebih baik aku mati saja
daripada aku harus hidup di keluarga seperti ini, inilah naluri anak-anakku
dulu. Tapi Tuhan berencana lain, Tuhan telah mengatur segalanya dalam hidupku.
Aku memang terlahir dari keluarga
yang kaya, bapakku memiliki koperasi sendiri dan saat aku masih kecil koperasi
bapakku semakin baik dan penuh dengan rezeki sehingga semua kebutuhan keluarga
tercukupi. Dulu keluargaku setiap tahun ganti mobil. Tapi takdir sudah
berbicara lain, ternyata kekayaan keluargaku tiba disaat mana sang pemberi titipan
kekayaan ingin mengambil hakNya lagi. Ternyata Tuhan berkehendak kantor cabang
bapakku yang kedua bangkrut karena pegawainya banyak yang korupsi, ini memang
derita pahit yang harus ditanggung keluargaku, karena dulu saat harga bbm dan barang-barang kebutuhan pokok
naik, bapakku terpaksa menjual mobil, dan keluargaku semakin banyak mengalami
kekurangan. Dulu aku tidak bisa meminta untuk dibelikan apapun, semuanya jadi terbatas, mama
selalu menasihati jika kami bukan lagi seperti yang dulu. Aku tak tahu
hikmah
dan arti kejadian ini dulu, pikiran ku belum bisa mengusai berbagai permasalahan
yang terjadi dalam kehidupanku dan kehidupan kelurgaku, itu karena aku masih
kecil dan tak tahu apa-apa. Kehidupan baru dimulai, dimana kehidupan ini bisa
dibilang lebih buruk dari kehidupanku yang dulu, sifat-sifat keluarga dari
bapakku tak kunjung berubah, malah yang tambah parah mamaku jadi sering
marah-marah. Dan aku bingung, kenapa
saat itu, semua kemarahan dirumah itu semua di lampiaskan kepadaku. Aku semakin
tidak mengerti, yang aku lakukan hanya menjalani apa adanya hidup ini. Kehidupan
SD kelas 1 higga kelas 3 tak ada makna yang begitu dalam yang ku rasakan,t api
saat aku mulai menginjak kelas 4 hingga kelas 6 SD ternyata takdir sudah
berkata lagi. Aku menjadi murid berprestasi di sekolahku. Aku mendapat rangking
2 di kelas samapai kelas 6 SD. Yang aku banggakan disini adalah padahal dulu
aku bodoh dan sering mendapat nilai jelek, tapi semenjak kelas 3 aku mulai
sering ikut les diguruku, ternyata keajaiban terjadi, aku selalu menjadi juara
kelas mengalahkan teman-temanku yang dulunya pintar. Aku tak menyangka bisa
dapat rangking, gara-gara hal ini aku semakin senang belajar dan ini adalah
kebanggakan tersendiri saat itu bagiku, aku jadi berpikir jika aku bisa membuat
bangga kedua orang tuaku. Dan itu tak seperti yang kubayangkan, ternyata
walaupun aku mendapat juara kelas aku tetap saja mendapat perlakuan seperti
biasanya. Orang tuaku hanya melihat rapot dan piagamku begitu saja, tidak ada
kesan yang mereka torehkan kepadaku yang saat itu aku mendapat juara. Aku hanya
bisa diam dan tak tahu mau berbuat apa, kenyataan sudah terjadi.
Tak seperti kehidupan saat SD, kehidupan
SAAT SMP lebih memberikan arti dan makna dari kehidupan, dan di saat itu pula
otakku sudah dapat menganlisa semua masalah-masalah dalam hidupku. Dimulai dari
aku kelas 7 SMP, dimana permulaan dimulai saat aku mulai ikut masa orientasi
siswa baru. Seperti yang sudah mendarah daging dari mamaku, aku sangat giat dan
aktif dalam setiap kegiatan MOS, dan saat itu aku terpilih menjadi pembawa
bendera saat upacara. Tak kusangka ternyata ini adalah permulaan yang baik, aku
jadi semakin aktif dan tidak hanya aktif di organisasi aku juga aktif di dalam
kelas, aku tidak menyangka ternyata di SMP ini aku mendapat juara 1 di kelas, tetapi
aku tidak bisa menjadi juara umum dari semua kelas, tidak apa-apa, tapi karena
hal ini yang bisa memompa jangtungku untuk bekerja lebih giat dan terus giat
lagi belajar. Dari kelas 7 SMP aku mengikuti semua organisasi yang ada di sekolah
untuk mengisi waktu luangku, aku menjadi pengurus osis di sekolahku, aku banyak
dikenal oleh teman-teman sekolah bahkan kakak kelas karena keaktifanku disemua
organisasi. Ternyata semakin hari aku
semakin menunjukan prilaku yang baik dan peningkatan dalam belajar. Tak
kusangka ternyata semester kedua, aku
bisa mendapatkan juara umum kedua, betapa bangganya diriku saat itu begitu juga
dengan kedua orang tuaku. Kenaikan kelaspun sudah tiba, aku bersekolah lagi. Aku
tak menyangka ternyata seorang anak yang baru berusia 13 tahun sudah bisa
menjadwal kegiatannya sehari-hari, itulah aku dulu hingga sekarang, waktu
sangatlah berharga bagiku. Kesibukan disekolah membuatku hanya malam hari
berada dirumah, semenjak naik kelas 8 kesibukan menambah dikarenakan aku
menjadi ketua beberapa organisasi di sekolahku.Aku terpilih menjadi ketua
pramuka, ketua PMR, wakil ketua mading, Sekretaris English Club, Sekretaris
Umum OSIS, semua tanggung jawab ini adalah takdir yang Tuhan telah gariskan
untukku, sehingga aku tak bisa membuang waktu dengan sia-sia. Setiap menit
bagiku sangatlah berarti.
Seperti halnya kehidupan nyata yang
ku lihat ternyata semakin kita mendapatkan kesuksesan hidup maka semakin banyak
pula tantangan yang akan di hadapi.Begitu juga yang aku alami saat itu. Aku
disekolah adalah anak yang aktif dan suka banyak mergaul dengan semua orang
tanpa memandang bulu, tapi walaupun kebaikan selalu ku berikan kepada
teman-teman. Tapi saat kebaikan itu mendapat ujian dari Tuhan, hanya perjalan
yang akan menjwab apakah kita sanggup melewatinya atau tidak. Dulu saat naik
dikelas 8 aku memilki teman-teman yang baik, mereka ada yang cowok dan ada yang cewek, mereka semua sudah ku anggap
saudara ku sendiri. tapi di balik itu semua ada juga sedikit teman yang tidak
senang melihat keberhasilanku, mereka sering menjelek-jelekanku dan
membicarakanku di belakang tapi aku diam
saja. Mereka seperti peluru yang siap menancap dalam jantungku. Mereka selalu menjadi
pengacau disekolah. Semua guru sudah mengenalku, bahkan penjaga sekolahpun
sangat dekat denganku, karena itulah mereka menjdai iri denganku, tapi saat itu
aku sudah mulai tumbuh dewasa, aku sudah bepikir jika aku meladeni mereka maka
aku sama saja dengan mereka. Sejak saat itu pula aku tidak lagi menghiraukan
mereka, walau ada saja yang mereka hinakan dan menyindirku tapi aku tidak
peduli lagiyang aku pikirkan hanya focus pada yanggung jawab yang sedang aku
pegang saat itu. Di SMP aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan seorang guru
BP(bimbingan Konseling) dan juga seorang Pembina pramuka, namanya pak Syukri. Beliau
mengajarkan begitu banyak makna dari kehidupan. Satu pesan beliau yang sampai
saat ini aku masih simpan dan selalu akan mengingatnya yaitu”KAMU TAHU
NAK,SEMAKIN TINGGI POHON,MAKA SEMAKIN BESAR ANGIN YANG AKAN MENERPANYA,COBA
KAMU PERHATIKAN RUMPUT YANG ADA DI BAWA,HANYA SEDIKIT ANGIN YANG
MENERPANYA.UNTUK ITU JIKA KAMU SEMAKIN SUKSES MAKA AKAN SEMAKIN BANYAK COBAAN
YANG KAMU DAPAT,SEKARANG TINGGAL BAGAIMANA CARANYA APAKAH KAMU MAU JADI POHON
YANG TINGGI YANG AKAN DI TERPA ANGIN LEBIH BESAR ATAU KAMU MAU JADI RUMPUT YANG
DITERPA SEDIKIT ANGIN TAPI KAMU SELALU DI INJAK-INJAK? KUATKAN DIRIMU,JADILAH
POHN YANG TUMBUH SEMAKIN TINGGI DENGAN AKAR YANG KUAT SEHINGGA SEBESAR APAPUN
ANGIN YANG AKAN MENERPAMU KAMU TAK KOYAH DAN ROBOH DENGANNYA’’. Itulah pesan
yang sampai saat ini tertanam kuat dalam diriku. Pak syukri dulu adalah guru
yang sangat disegani oleh semua orang, tidak hanya aku, teman-temanku yang lain
bahkan kakak kelasku curhat tentang masalah pribadi dengannya. Dan pak Syukri
begitu pandai dalam memberikan solusi dan motivasi bagi kami semua. Melihat
keaktifan dan kesungguhanku, pak Syukri berkeinginan menjadikan aku KETUA osis,
tapi ternyata takdir berkata lain, saat itu pak syukri lulus menjdi PNS, jadi
pak syukri sibuk mengurus surat pindah sehingga saat itu ia diganti oleh pak Iman,
ternyata aku baru tahu saat itu jika pak Iman adalah guru yang tidak senang dan
irih kepada pak Syukri yang banyak disukai para murid. Saat pemilihan ketua
osis aku di antara keempat temanku aku yang paling baik menyampaikan visi dan
misi, tapi takdir sudah berkata, saat perhitungan suara aku hanya beda 3 point
dari temanku NISA, aku sempat kecewa dan menangis tidak terpilih menjadi ketua.
Setelah pemilihan aku sholat dan berdoa kepada Tuhan kenapa ini bisa terjadi, yang
ku takutkan bukan tidak bisa jadi osis, karena aku tetap menjadi sekretaris
umum, tapi yang ku takutkan adalah ejekan dari teman yang selalu iri dan tidak
suka denganku. Semua ini memang sudah terjadi aku memang tidak bisa berbuat
apa-apa.
Keesokan harinya disekolah tak jam 6 lewat 15 aku sudah berada disekolah, begitulah
keseharianku pergi sekolah dating tepat waktu lalu membersihkan kelas, dan
taman depan kelas karena tanggung jawabku sebagai ketua kelas,tapi hari ini
perasaanku tidak seperti hari-hari lainnya. Hari ini aku keliatan sangat tidak
bersemangat karena hasil pemilihan kemarin. Aku sudah bisa berpikir apapun
karena cita-cita kecil menjadi seorang ketua OSIS sudah pupus sudah, aku
melihat keceriaan di mata teman-teman yang suka iri denganku,begitu juga dengan
pak iman, karena melihat ini semua hatiku menjadi sakit. Ternyata dugaan ku
benar mereka menjadi memilki kekuatan untuk membicrakan dan menyinggung
perasaanku. Walau sempat tak terima, tapi Tuhan masih menancapkan rasa
kesabaran dalam hidupku.Aku sabar dengan semua yang terjadi dan mulai saat itu
aku tidak lagi memikirkan jabatan ketua. Tapi ALLAH maha adil, Allah memberikan
jalan lain dari ujian kesabaran yang aku alami, ternyata aku menjadi juara umum
pertama disekolahku saat pembagian rapot. Yang tidak kalah membahagiakan lagi
ternyata aku mendapat juara 1 lomba oliempiade fisika, semaphore, dan
kebersihan kelas, tidak hanya itu aku juga mendapat juara 2 lomba baca cerita
menggunakan bahasa inggris, juara 2 lomba mengarang sejrah rasullaulah. Tak ku
sangka Allah memberikan nikmat yang tiada tara dari kesabaranku selama ini, tak
kalah membahagiakn juga ternyata pengumuman lomba juara itu diumumkan di depan
seluruh siswa disekolahku, betapa bangganya saat itu aku maju dengan
mendapatkan banyak hadiah dan piagam. Tidak hanya guru yang bangga
teman-temanku pun bangga denganku. Terbesit dalam hati saat maju di depan di
dalam hati aku berdoa” makasih ya Allah atas apa yang kamu berikan,tambahkanlah
kenikmatanmu setiap detiknya ya Allah”
dan hatiku ternyata tidak sedang serasi dengan pikiranku, pikiranku malah
memikirkan betapa bahagianya kedua orang tuaku melihat apa yang akan ku bawa
pulang kerumah. Ternyata terjwab sudah apa yang aku pikirkan itu,tak ku sangka
saat aku membawa pulang hadiah-hadiah yang begitu banyak dan piagam-piagam yang
begitu banyak pula dan semua itu ku persembahkan untuk kedua orang tuaku, mereka
berdua terlihat sangat senang dan bapak serta mama bilang bangga kepadaku dan
pesan mereka kepadaku agar aku jangan jadi anak yang gampang puas, tingkatkan
lagi. Itulah kata-kata orang tuaku betapa bangga dan nikmatnya mendengar
kata-kata yang keluar dari bibir manis kedua orang tuaku. Aku sangat senang
saat itu, betapa tidak selain mendapat juara umum sekolah, aku jiuga mendapat
juara umum untuk kegiatan non akademik, tidak hanya itu aku juga sangat senang
ternyata orang tuaku sekarang sudah berubah dan aku berdoa saat itu semoga ini
adalah awal yang baik. Kebahagian tidak hanya dating dari itu saja, tapi ada
lagi kebahagiaan lain yang aku dapatkan yaitu aku diberi hadia oleh bapakku
untuk pergi berlibur ke kota Mataram, Itulah mataram kota besar di provinsiku. Betapa
senangnya saat itu kebahagiaan datang dengan cepatnya, ya Allah,,terima
kasih,,begitulah hatiku selalu berucap.
Doa yang selama ini aku panjatkan
setiap sholat tahajud semakin hari semakin terwujud, mendapat prestasi
disekolah ku raih, orang tuaku saat itu sudah berubah jarang marah, jarang
mukul, jarang terjadi permasalahan seperti biasanya, dan walau hanya sedikit
kakakku jadi sering menegur dan perhatian kepadaku. Alhamdulilah. Semua itu
ternyata buah dari kesabaranku selama ini. Dan ini adalah cerita hidup yang
penuh makna. Tidak berhenti sampai disini aku masih harus menjalani perjalan
hidup yang penuh dengan tantangan kedepannya teringat pesan pak syukri dulu. Begitu
seterusnya aku pun masih memegang juara umum disekolahku. Ternyata takdir baik
sedang tidak berpihak lagi kepadaku, tiba saatnya aku mulai ujian disekolah
tapi sebelumnya aku di uji terlebih dahulu dengan ujian yang sangat berat yaitu
permasalhan kelurgaku. Orang tua ku berkelahi, yang menyebabkan kakaku tidak
pernah lagi betah dirumah, dan aku melihat secara langsung perkelahian 2 orang
yang sangat aku sayangi, disana aku melihat cucuan air mata dari mamaku yang
tak sanggup kulihat dan tak bisa ku
tahan akupun ikut menangis padahal hari ujian ku saat itu tinggal1 hari. Betapa
tidak pikiranku terganggu, belajar dan semangat dalam diriku tak ku tau lari
kemana. Sungguh penyiksaan yang luar biasa dalam hidupku sempat tebikir aku
bosan menjalani hidup ini dan aku selalu beradu argument dengan hati kecilku, kenapa
temanku yang lain keluarganya bahagia, sedangkan keluargaku selalu bertengkar. Masalah
yang sebenarnya sepele dirumah akan menjadi masalah yang besar. Mungkin disaat
ini Allah lebih menguji kesabaranku, mungkin aku akan naik ke tingkat yang
lebih tinggi lagi. Tapi saat itu tak ada lagi yang bisa memedam rasa hati ingin
menangis dan melepas semua penat hidupku. Aku merasa kalah dengan nafsu yang
menyelimuti seluruh hatiku saat itu, nafsu yang menyuruhku ingin mati saja dan
nafsu yang membuatku bertindak seperti menyalahkan takdir. Peristiwa yang tak
pernah kubayangkan saat akan menghadapi ujian nasional aku harus di uji dulu
dengan permasalahan hidup. Kenapa aku secepat ini merasakan pengalaman hidup
seperti ini? Hatiku selalu bertanya seperti itu, aku selalu menyalahkan hidup
ini, tapi apa mau di kata semuanya sudah terjadi. Hal inilah yang semua mimpi
kecilku terbuang dengan begitu mudah. Ujian nasional di mulai, semua bejalan
seperti biasa tapi tetap saja gangguan permasalahan dirumah menggangguku. Ujian
Nasional berlalu, dengan itu aku
terbebas dari ujian akademikku. Perasaan khawatir mulai menggangu dalam
pikiranku saat aku mengetahui bahwa beberapa soal ada yang ku jawab salah, hal
ini semakin membuatku takut, tapi keluar dari itu aku sudah tidak ingin lagi
memikirkannya, aku dulu fokus untuk tes
masuk SMAN 5 Mataram, sekolah yang banyak orang yang membanggakannya dan
sekolah yang berada di ibukota provinsiku, sungguh aku bercita-cita bisa masuk
sekolah itu dari SD. Ternyata Allah telah mengatur semuanya, akupun ikut tes
dan aku belajar dengan sungguh-sungguh, tes ujian masuk SMA sudah aku lalui, saatnya
aku menunggu penguman kelulusan. Hari sabtu adalah hari dimana saksi-saksi
kehidupanku terungkap, hari ini adalah acara perpisahan sekolah dan bertepatan
dengan pengumuman nilai ujian nasional, tak ku sangka dan semua pun tak
menyangka ternyata aku mendapat juara ke-10 besar tingkat kecamatan, padahal
teman-temanku sudah mengira aku akan mendapatkan nilai tertinggi pertama, ternyata
takdir sudah berkata lain, sungguh malu dan sedihnya hatiku saat itu, ingin
rasanya aku berteriakdan marah, kenapa semua ini begitu memalukan, rasa takut
pun tak bisa ku bendung, takut untuk pulang dan membawa hasil menjadi juara 10.
Biasanya aku membawa pulang juara 1 tapi sekarang aku membuat kedua orang tuaku
kecewa. Ternyata perasaan dan kenyataan yang terjadi setiba dirumah benar, aku di marah oleh mama, sungguh rasanya ingin
menangis, mama marah aku bisa mendapat nilai begitu, aku sempat berpikir
ternyata orang tuaku tak bisa menerima aku apa adanya, aku malah dimarah tapi
mereka tak pernah tahu jika hatiku juga kecewa dan sakit mengetahui hasil ini. Tak
berakhir lagi-lagi aku mendapat berita yang tak kalah mengejutkan ternyata saat
pemilihan ketua osis dulu, ada kakak kelas yang menambah skor temanku Nisa, ternyata
dia adalah orang yang suka iri padaku. Memang penuh dengan kejutan saat itu,
tapi aku pikir itu semua sudah terjadi, aku ikhlas,aku berpikir bahwa orang iri
tandanya tak mampu . Tak di
sangka-sangka Allah maha adil disaat aku di beri ujian ternyata ada kebahagiaan
yang dikirim oleh Allah untukku. Kebahagiaan yang tak pernah ku sangka
benar-benar terjadi, ternyata aku lulus di SMAN 5 Mataram. Ternyata kekecewaan
orang tua ku terbalas dengan kelulusanku d SMAN 5 Mataram, SMA yang sangat
sulit di masukin oleh orang-orang yang biasa, orang-orang pintar dan
kayalah yang bisa masuk SMA itu, betapa
bersyukurnya aku saat itu. Satu pelajaran yang ku ambil di permasalahan ini, jika
kita mau bersabar maka akan datang kenikmatan dan kebahagian, hadapi hidup ini
walau pahit karena hidup banyak memberikan kita arti dan makna yang membuat
kita lebih kuat untuk menghadapi tantangan hidup berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar